Head Office

PT TRUBUS SWADAYA Jl. Kapitan I No.1A Sukatani, Tapos Depok
No HP: 081210400098
No Telp: 021 8742220
Pin BBM:

Musuh Baru Kanker Serviks


Oleh : admina | 06 September 2016

Bagi kaum perempuan, kanker leher rahim alias serviks momok kedua setelah kanker payudara.


Penderita kanker serviks kian meningkat, lebih dari 17 penderita per 100.000 perempuan. Daun avokad salah satu penawar.

Bagi kaum perempuan, kanker leher rahim alias serviks momok kedua setelah kanker payudara. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Kesehatan pada 2013, kanker dengan prevelensi tertinggi—mencapai 0,8% dari seluruh penduduk Indonesia—adalah kanker serviks. Artinya, kasus baru kanker serviks di Indonesia bertambah 15.000 penderita setiap tahun.

Badan Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita kanker serviks terbanyak di dunia. Menurut riset International Cancer Research (IARC) pada 2012 penderita baru kanker leher rahim di Indonesia meningkat sejak 2002. Pada 2002, ada 16 penderita per 100.000 perempuan, sedangkan pada 2012 bertambah menjadi 17 penderita per 100.000 perempuan.

Gejala
Menurut dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponogoro, Ari Udiyono, banyak pengidap menyadari kehadiran kanker serviks setelah terlambat. Saat kanker yang bercokol di leher rahim telanjur tumbuh hingga stadium lanjut barulah mereka memeriksakan diri. Kurangnya pengetahuan terhadap gejala dan pemicu menjadi penyebab. Akibatnya peluang sembuh lebih kecil dibandingkan dengan mereka yang mengetahui kanker sejak awal.

Penyebab utama kanker serviks adalah infeksi human papillomavirus (HPV). Menurut dr Haris Anshori Kartosen SpOG di Kabupaten Lamongan, Provinsi Jawa Timur, gejala kanker serviks adalah keputihan yang tidak normal. “Kadang pasien menganggap remeh keputihan sehingga tidak melakukan pemeriksaan. Setelah keluar darah secara tidak normal atau di luar waktu menstruasi mereka baru memeriksakan ke dokter,” ujar dr Haris.

Binder1.pdfMenurut dokter yang praktik di rumah Rumahsakit Fatimah, Lamongan, Jawa Timur itu, pendarahan terjadi akibat kerusakan di jaringan mulut rahim. “Jaringan mulut rahim yang berubah menjadi sel kanker pun rapuh sehingga menimbulkan luka dan mengeluarkan darah,” ujar Haris. Jeda waktu antara infeksi HPV sampai positif kanker bisa sangat lama, mencapai 10—15 tahun.

Oleh karena itu Haris menyarankan tes papsmear minimal 2 tahun sekali. Papsmear bertujuan mengecek kesehatan serviks dan mendeteksi adanya abnormalitas sel-sel tertentu. Jika sudah terkena kanker serviks maka dokter akan mengecek stadium sebelum pengobatan. Itu karena metode pengobatan setiap stadium kanker berbeda-beda.

Pada stadium awal, dokter menyarankan untuk melakukan pengangkatan sel kanker melalui pembedahan atau operasi. Namun, pada stadium lanjut seperti stadium empat, sel kanker telanjur menyebar ke berbagai organ lain seperti kandung kemih dan paru-paru. Ketika kanker metastasis atau menyebar, operasi pengangkatan pun sulit. Itulah sebabnya dokter memberikan obat untuk menghambat pertumbuhan sel kanker dan mengurangi rasa sakit.

Daun avokad
Angka kematian yang tinggi menunjukkan bahwa kemoterapi tidak memberikan hasil yang baik sehingga perlu pengobatan lain. Riset Ana Mardiyaningsih dan rekan dari Politeknik Kesehatan Bakti Setya, Yogyakarta membuktikan, daun avokad berkhasiat mengatasi kanker serviks. Dalam penelitian itu Ana dan rekan menggunakan serbuk daun avokad kering.

Wahyu Suprapto herbalis di Kota Batu, Jawa Timur.

Wahyu Suprapto herbalis di Kota Batu, Jawa Timur.

Ia menambahkan etanol 96% pada serbuk itu sehingga menjadi ektrak etanolik. Ana menguji aktivitas sitotoksik ekstrak daun Persea americana itu terhadap sel HeLa atau sel kanker serviks. Hasilnya ekstrak daun avokad menghambat pertumbuhan sel kanker leher rahim dengan nilai IC50 360 µg/ml. Artinya untuk mengatasi separuh sel kanker serviks hanya membutuhkan dosis 360 µg/ml ekstrak etanol avokad.

Semakin kecil nilai IC50 maka senyawa uji semakin berpotensi menghambat pertumbuhan kanker. Berdasarkan analisis kualitatif, daun avokad mengandung flavonoid, saponin, dan alkoloid yang berpotensi sebagai senyawa antikanker. Mekanisme flavonoid sebagai antiproliferatif sel kanker melalui beberapa cara seperti deaktivasi senyawa karsinogen, antiproliferasi sel, menginduksi apoptosis, menghambat angiogenesis, antioksidan, dan diferensiasi sel.

Flavonoid juga merupakan senyawa di dalam tumbuhan yang dapat menghambat proliferasi beberapa sel kanker yang memiliki toksisitas rendah. Beberapa senyawa flavonoid bahkan tidak bersifat racun terhadap sel sehat. Selain itu, senyawa alkaloid seperti vinkristin dan vinblastin berperan sebagai antimitotic agent sehingga proses mitosis sel terganggu sehingga menghambat perbanyakan sel kanker.

Menurut herbalis di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, Ir Wahyu Suprapto, senyawa flavonoid, saponin, alkaloid dalam daun avokad bersifat antikanker. Namun ia belum pernah menggunakan daun itu untuk pasien. Wahyu meresepkan daun avokad untuk pasien hipertensi. “Daun avokad bagus untuk menurunkan tekanan darah akibat gangguan ginjal,” ujar Wahyu.

Ia mengombinasikan daun avokad dan herbal lain, yakni daun kumis kucing Orthosiphon stamineus, akar alang-alang Imperata cylindrica, dan daun sembung Blumea balsamifera. Wahyu mengatakan, daun avokad terbaik untuk konsumsi tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua atau berwarna hijau gelap. Konsumsi rebusan daun anggota famili Lauraceae dua kali sehari pada pagi dan malam. (Ian Purnama Sari)

Copyright © 2016 Trubus Online Shop , Powered By nanangkristanto.com