Head Office

PT TRUBUS SWADAYA Jl. Kapitan I No.1A Sukatani, Tapos Depok
No HP: 081210400098
No Telp: 021 8742220
Pin BBM:

Akhiri Candu Narkoba


Oleh : admina | 06 September 2016

Hasil panen buah naga super red dikemas dan dijual ke pemasok pasar tradisional dan swalayan di Kabupaten Serang, Provinsi Banten.


Terapi pengobatan dan berkebun buah naga untuk merehabilitasi para pecandu narkoba.

Dua mobil memasuki halaman Klinik Sapta Naga di Desa Kadubeureum, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Di sana Hendy Kurniawan—bukan nama sebenarnya—ramah menyambut para tamu. Ia lalu mengantar rombongan dari Dinas Kesehatan Provinsi Banten itu menuju kebun buah naga daging merah di dekat area parkir. Kebun buah naga juga menghampar di bagian belakang gedung.

Anggota rombongan pun lantas menyebar ke berbagai sudut kebun untuk “berburu” buah naga daging merah yang sudah siap petik. Sementara Hendy mengikuti para anggota rombongan sambil membawa gunting untuk memanen buah dan kantong plastik untuk wadah buah naga yang dipanen. Ia kemudian menimbang buah naga hasil panen itu. Hendy menjual buah naga itu Rp25.000 per kg.

Terapi
Begitulah aktivitas Hendy jika sedang ada tamu yang berkunjung. Jika sedang tidak ada tamu, pemuda asal Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, itu bekerja merawat kebun seperti memberi pupuk dan memangkas sulur yang terlalu rimbun. Saat sedang musim panen kesibukan Hendy bertambah, yaitu mengemas buah hasil panen yang akan dijual kepada pemasok buah di pasar tradisional dan pasar swalayan.

Aktivitas Hendy itu merupakan salah satu terapi rehabilitasi untuk para pecandu narkotika dan obat terlarang (narkoba) yang menjadi salah satu layanan Klinik Sapta Naga. Hendy pecandu obat penenang yang sedang menjalani rehabilitasi.

Para pengunjung tengah memanen buah naga daging merah di kebun milik Klinik Sapta Naga.

Para pengunjung tengah memanen buah naga daging merah di kebun milik Klinik Sapta Naga.

Beruntung Hendy belum tertangkap tangan oleh pihak berwajib. Untuk mengobatinya, keluarga Hendy membawanya ke Klinik Sapta Naga untuk mendapatkan terapi rehabilitasi. Di sanalah Hendy mendapatkan berbagai terapi. Menurut pengelola dan terapis di klinik Sapta Naga, Khairul Basri, pada 3 hari pertama terapi Hendy diwajibkan untuk “mutih” yaitu hanya mengonsumsi nasi putih setiap kali makan.

Menurut Hendy terapi itu untuk tahap awal detoksifikasi. “Pada tahap ini pasien biasanya mengalami mual,” ujar Khairul. Setelah itu barulah pasien mendapatkan asupan makanan sehat dan bergizi, seperti mengonsumsi buah naga daging merah yang dipanen dari kebun. “Buah naga mengandung antioksidan tinggi sehingga baik untuk menangkal radikal bebas dan mengikat racun bahan kimia obat terlarang pada darah pasien,” ujar Khairul.

Pasien mengonsumsi buah naga dalam keadaan perut kosong agar penyerapan antioksidan berlangsung lebih optimal. Selain asupan makanan sehat, Hendy juga mendapatkan terapi berupa olah gerak dan pernapasan. Klinik Sapta Naga merupakan panti rehabilitasi yang dibangun Yayasan Saptadaya Banten. Ir Budi Miarso mendirikan yayasan itu pada 7 Juli 1997.

Energi listrik

Klinik Sapta Naga mengebunkan buah naga super red di lahan 4.000 m²..

Klinik Sapta Naga mengebunkan buah naga super red di lahan 4.000 m².

Saptadaya mengajarkan teknik olah gerak dan napas yang membuka, mengolah, dan mengendalikan tenaga dalam murni yang ada dalam tubuh manusia. “Teknik Saptadaya ini kami gunakan untuk merehabilitasi pecandu narkoba,” ujar Ucok—sapaan Khairul Basri. Pasien berlatih olah gerak dan napas dua kali sehari yaitu pada pukul 07.00 dan 16.00.

Menurut Khairul di dalam tubuh manusia terdapat ion-ion listrik bertegangan sangat tinggi. Energi dari ion-ion listrik itu bisa dibangkitkan dengan cara mengolah gerak dan napas melalui gerakan dan teknik bernapas tertentu. “Dengan latihan itu akan keluar daya listrik yang sangat besar dan melancarkan aliran darah ke seluruh tubuh,” tutur pria asal Sumatera Utara itu.

Khairul menuturkan penggunaan narkoba menyebabkan aliran darah yang berfungsi mengangkut zat-zat vitamin dan mineral bagi tubuh terhambat. Jika aliran darah lancar, maka distribusi vitamin ke seluruh tubuh akan optimal sehingga lebih cepat memulihkan kondisi tubuh pasien yang kekurangan nutrisi. Klinik Sapta Naga juga mengombinasikan terapi fisik dengan terapi spiritual, seperti berzikir dan beribadah.

Khairul juga melibatkan para pasien dalam mengelola kebun buah naga. Di sekitar gedung klinik terhampar 450 tiang buah naga yang tumbuh di lahan 4.000 m². Ia melibatkan para pasien untuk melakukan perawatan kebun seperti memupuk, memangkas, memanen, dan mengemas hasil panen. Menurut Khairul aktivitas berkebun untuk mengisi kegiatan para pasien. “Pecandu narkoba itu tidak boleh dibiarkan bengong dan melamun. Kalau melamun biasanya kembali muncul sugesti ingin mengonsumsi narkoba kembali,” ujarnya.

Dukungan keluarga

Khairul Basri, pengelola dan terapis di Klinik Sapta Naga.

Khairul Basri, pengelola dan terapis di Klinik Sapta Naga.

Khairul begitu ketat mengawasi para pasien untuk memastikan tidak ada yang menganggur atau bengong. “Kalau tidak ada kegiatan saya suruh untuk berzikir atau beribadah lain sesuai agama dan kepercayaan pasien,” tuturnya. Namun, menurut Khairul seluruh terapi itu tak akan berhasil tanpa dukungan pihak keluarga.

Terkadang keluarga pasien seperti tidak peduli dan hanya menyerahkan sepenuhnya pada panti rehabilitasi. “Padahal dengan kasih sayang dapat membuat harga diri pasien kembali bangkit sehingga kembali bersemangat untuk menjalani hidup yang lebih baik,” kata Khairul. Dengan memadukan terapi fisik, spiritual, dan psikologis, masa rehabilitasi pasien pecandu narkoba menjadi lebih cepat.

Menurut Khairul pasien tidak ingin mengonsumsi narkoba lagi setelah 2—3 bulan terapi. “Masa terapi untuk menghilangkan sakau bisa 6—12 bulan,” tuturnya. Itulah sebabnya Klinik Sapta Naga menjadi mitra Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dan Dinas Kesehatan, dan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Serang dalam membantu rehabilitasi para pencandu narkoba. “Namun, jangka waktu terapi hingga sembuh total tergantung keinginan pasien untuk sembuh atau dukungan keluarga,” ujar Khairul. (Imam Wiguna)

Copyright © 2016 Trubus Online Shop , Powered By nanangkristanto.com