Head Office

PT TRUBUS SWADAYA Jl. Kapitan I No.1A Sukatani, Tapos Depok
No HP: 081210400098
No Telp: 021 8742220
Pin BBM:

Bertani di Jantung Kota


Oleh : admina | 06 September 2016

Budi Sarwono kini tidak perlu berbelanja ke pasar atau menunggu tukang sayur keliling untuk mendapatkan sayuran segar. Kebutuhan itu tercukupi dari kit hidroponik di halaman rumahnya yang berukuran 2 m x 8 m.


Berkebun sayuran di ruang sempit di sela rumah.

Budi Sarwono kini tidak perlu berbelanja ke pasar atau menunggu tukang sayur keliling untuk mendapatkan sayuran segar. Kebutuhan itu tercukupi dari kit hidroponik di halaman rumahnya yang berukuran 2 m x 8 m. Beragam sayuran seperti selada, kangkung, kale, sawi, dan pakcoy tumbuh di sana. Menurut Rudi dengan menanam di pekarangan ia bisa mendapatkan sayuran sehat, segar, dan kualitasnya terjamin. Biayanya pun rendah.

Kit hidroponik miliknya hanya menggunakan 1 pompa air berkekuatan 35 watt. “Kebutuhan listrik untuk pompa hanya Rp10.000 per bulan,” kata Rudi yang menjadi anggota Komunitas Petani Kota (KPK). Menanam beragam sayuran salah satu hobi Rudi sejak lama dan semakin mantap sejak bergabung dengan Komunitas Petani Kota. Komunitas itu terbentuk pada Desember 2015.

Anggota berkembang
Pembentukan Komunitas Petani Kota bermula dari Badan Pemberdayaan Masyarakat, Perempuan, dan Keluarga Berencana DKI Jakarta menggelar Program Pemberdayaan Masyarakat pada 2015. Salah satu kegiatannya adalah pelatihan pertanian perkotaan. Saat itu, 14 kelurahan dari beberapa kotamadya di Jakarta mengirim peserta. Dalam pelatihan itu, mereka mendapatkan ilmu bertanam secara hidroponik di halaman rumah.

Rudi Sarwono anggta Komunitas Petani Kota bertanam beragam sayuran di pekarangan.

Rudi Sarwono anggta Komunitas Petani Kota bertanam beragam sayuran di pekarangan.

Sebagai bentuk kelanjutan program, menyebarkan pengetahuan kepada warga lain, dan ajang komunikasi alumni, para peserta membentuk KPK. Mereka saling berbagi informasi dan pengalaman soal berhidroponik di halaman rumah. Melalui komunikasi rutin, mereka saling menyemangati anggota lain sekaligus menularkan semangat bertanam di halaman rumah kepada keluarga atau warga di sekitarnya.

Selain mendapatkan bahan pangan yang sehat, berhidroponik sayuran di halaman rumah juga membantu perekonomian keluarga. Semakin lama, jumlah anggota KPK semakin berkembang karena banyak yang tertarik dan ingin menanam sayuran di pekarangan sendiri. Maklum, hidroponik, apalagi sayuran daun, bukan hal rumit. Rudi membeli bibit di toko pertanian yang menyediakan benih berbagai jenis tanaman.

Ia lantas menyemai benih-benih itu di media rockwool atau serbuk sabut kelapa (cocopeat). Lama pembibitan setiap jenis sayuran berbeda-beda. Untuk itu warga Kalibata, Jakarta Selatan, itu berpatokan kepada jumlah daun. Setelah muncul 2 daun, ia memindahkan sayuran-sayuran belia itu ke kit hidroponik. Ia mendapatkan kit itu ketika mengikuti pelatihan hidroponik.

Kit berupa rangkaian pipa berlubang sebagai lubang tanam. Rudi mennyalakan pompa setiap hari pada pukul 05.00—19.00. Sebagai sumber nutrisi, ia menggunakan pupuk AB Mix. Ia mencampurkan 2 gelas—setara 400 ml—campuran pupuk ke dalam 60 liter air. Setiap 2 hari ia menambahkan 1 tutup botol air mineral ke dalam tandon air bervolume 60 l. Dengan perawatan yang baik, Rudi hampir tidak pernah menemukan hama yang menyerang tanaman.

Bertani sehat

Anggota Komunitas Petani Kota mengontrol sayuran hidroponik.

Anggota Komunitas Petani Kota mengontrol sayuran hidroponik.

Beragamnya sayur yang ada di pekarangan rumah Rudi menjadi daya tarik bagi warga sekitar. Tetangga yang tinggal berdekatan dengan pria kelahiran 1969 itu kerap menyambangi perangkat hidroponik yang penuh dengan sayuran. Tujuan mereka pun bermacam-macam, ada yang benar-benar serius bertanya cara bertanam, waktu panen, atau malah berswafoto dengan ponsel pintar.

Ketua RW setempat, H Amir, menyatakan antusiasme warga akan sayuran sehat sangat tinggi. Menurut Amir ketika warga mendengar Rudi panen, berbondong-bondong datang untuk membeli sayuran hasil budidaya hidroponik. Meski demikian Amir menyayangkan kurangnya keinginan membudidaya atau bertani di pekarangan. Ia berharap pelatihan serupa diselenggarakan lagi agar warga yang ingin bertani di pekarangan bisa mendapatkan ilmu atau pengetahuan dasar untuk bertanam di pekarangan.

Zulhaq Ramadhan Djatma pendiri Komunitas Petani Kota di Jakarta.

Zulhaq Ramadhan Djatma pendiri Komunitas Petani Kota di Jakarta.

Menurut pemateri sekaligus pendiri komunitas petani kota, Zulhaq Ramadhan Djatma, para anggota KPK bercita-cita kelak komunitas itu bertransformasi menjadi kelompok petani kota. Selain menyediakan sayuran untuk konsumsi sendiri juga bisa dijual untuk meningkatkan perekonomian. “Di Jakarta dan sekitarnya saja ceruk pasar sayuran sehat sangat besar,” ujar Zulhaq.

Pegiat KPK, Charlie Tjendapati, menyatakan bahwa sementara ini mereka memiliki kebun di Padalarang, Bandung. Kebun itu dapat digunakan untuk belajar atau bertani dengan cara yang benar. “Bertani yang benar memenuhi syarat sehat lingkungan, sehat manusia, sehat produsen, dan sehat konsumen. Saat ini petani cenderung mementingkan kesuburan tanaman untuk mendapatkan hasil maksimal,” kata Charlie.

Sayang, mereka menggunakan pupuk dan pestisida sintetis yang membahayakan kesehatan manusia. Untuk itulah KPK berupaya mengampanyekan pertanian kota yang sehat. Dalam waktu singkat, usaha itu mulai menampakkan hasil. Bahkan semangat bercocok tanam sepertinya tidak hanya dimiliki warga di tingkat RW di Jakarta. Menurut Zulhaq seorang mantan direktur BUMN juga ikut bergabung dalam KPK lantaran di kantornya terdapat lahan untuk penanaman hidroponik. Mereka membuktikan bahwa bertani itu sehat dan keren. (Muhammad Awaluddin)

Copyright © 2016 Trubus Online Shop , Powered By nanangkristanto.com